Health

Saturday, October 07, 2006

Tentang RUBELLA

1. Identifikasi

Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dan menimbulkan demam ringan dengan ruam pungtata dan ruam makulopapuler yang menyebar dan kadang-kadang mirip dengan campak atau demam scarlet. Anak-anak biasanya memberikan gejala konstitusional yang minimal, tetapi orang dewasa akan mengalami gejala prodromal selama 1-5 hari berupa demam ringan, sakit kepala, malaise, coryza ringan dan konjungtivitis. Limfadenopati post aurikuler, oksipital dan servikal posterior muncul dan merupakan ciri khas dari infeksi virus ini yang biasanya muncul 5-10 hari sebelum timbulnya ruam. Hampir separuh dari infeksi ini tanpa ruam. Lekopeni umum terjadi dan trombositopeni juga bisa terjadi, tetapi manifestasi perdarahan jarang. Arthalgia dan, yang lebih jarang terjadi, arthritis sebagai komplikasi infeksi ini terutama pada wanita dewasa. Ensefalitis dan trombositopeni jarang terjadi pada anak-anak; ensefalitis terjadi lebih sering pada orang dewasa.

Rubella menjadi penting karena penyakit ini dapat menimbulkan kecacatan pada janin. Sindroma rubella congenital (Congenital Rubella Syndrome, CRS) terjadi pada 90% bayi yang dilahirkan oleh wanita yang terinfeksi rubella selama trimester pertama kehamilan; risiko kecacatan congenital ini menurun hingga kira-kira 10-20% pada minggu ke-16 dan lebih jarang terjadi bila ibu terkena infeksi pada usia kehamilan 20 minggu.

Infeksi janin pada usia lebih muda mempunyai risiko kematian di dalam rahim, abortus spontan dan kecacatan congenital dari sistem organ tubuh utama. Cacat yang terjadi bisa satu atau kombinasi dari jenis kecacatan berikut seperti tuli, katarak, mikroftalmia, glaucoma congenital, mikrosefali, meningoensefalitis, keterbelakangan mental, patent ductus arteriosus, defek septum atrium atau ventrikel jantung, purpura, hepatosplenomegali, icterus dan penyakit tulang radiolusen. Penyakit CRS yang sedang dan berat biasanya sudah dapat diketahui ketika bayi baru lahir; sedangkan kasus ringan yang mengganggu organ jantung atau tuli sebagian, bisa saja tidak terdeteksi beberapa bulan bahkan hingga beberapa tahun setelah bayi baru lahir. Diabetes mellitus dengan ketergantungan insulin diketahui sebagai manifestasi lambat dari CRS. Malformasi congenital dan bahkan kematian janin bisa terjadi pada ibu yang menderita rubella tanpa gejala.

Membedakan rubella dengan campak (q.v.), demam scarlet (lihat infeksi Streptokokus) dan penyakit ruam lainnya (misalnya infeksi eritema dan eksantema subitum) perlu dilakukan karena gejalanya sangat mirip. Ruam makuler dan makulopapuler juga terjadi pada sekitar 1-5% penderita dengan infeksi mononucleosis (terutama jika diberikan ampisilin), juga pada infeksi dengan enterovirus tertentu dan sesudah mendapat obat tertentu.

Diangosa klinis rubella kadang tidak akurat. Konfirmasi laboratorium hanya bisa dipercaya untuk infeksi akut. Infeksi rubella dapat dipastikan dengan adanya peningkatan signifikan titer antibodi fase akut dan konvalesens dengan tes ELISA, HAI, pasif HA atau tes LA, atau dengan adanya IgM spesifik rubella yang mengindikasikan infeksi rubella sedang terjadi.

Sera sebaiknya dikumpulkan secepat mungkin (dalam kurun waktu 7-10 hari) sesudah onset penyakit dan pengambilan berikutnya setidaknya 7-14 hari (lebih baik 2-3 minggu) kemudian. Virus bisa diisolasi dari faring 1 minggu sebelum dan hingga 2 minggu sesudah timbul ruam. Virus bisa ditemukan dari contoh darah, urin dan tinja. Namun isolasi virus adalah prosedur panjang yang membutuhkan waktu sekitar 10-14 hari. Diagnosa dari CRS pada bayi baru lahir dipastikan dengan ditemukan adanya antibodi IgM spesifik pada spesimen tunggal, dengan titer antibodi spesifik terhadap rubella diluar waktu yang diperkirakan titer antibodi maternal IgG masih ada, atau melalui isolasi virus yang mungkin berkembang biak pada tenggorokan dan urin paling tidak selama 1 tahun. Virus juga bisa dideteksi dari katarak kongenital hingga bayi berumur 3 tahun.



2. Penyebab penyakit: Virus rubella (famili Togaviridae; genus Rubivirus).



3. Distribusi penyakit

Tersebar di seluruh dunia, umumnya endemis, kecuali pada masyarakat yang terisolasi, terutama masyarakat kepulauan tertentu yang mengalami KLB setiap 10-15 tahun. Penyakit ini banyak muncul pada musim dingin dan musim semi. Wabah yang sangat luas terjadi di AS pada tahun 1935, 1943 dan 1964 dan di Australia pada tahun 1940. Sebelum vaksin rubella diijinkan beredar pada tahun 1969, puncak insidensi rubella terjadi di AS setiap 6-9 tahun sekali. Selama tahun 1990-an insidensi rubella di AS menurun dengan drastic. Namun persentasi kasus diantara orang asing yang lahir disana meningkat tajam pada saat yang sama. Selama tahun 1990-an, KLB rubella di AS terjadi di tempat kerja, pada institusi, di masyarakat umum dan lingkungan lain dimana anak-anak muda dan mereka yang berangkat dewasa berkumpul. Virus rubella bertahan pada orang yang tidak diimunisasi.






4. Reservoir: - Manusia.

5. Cara Penularan

Kontak dengan sekret nasofaring dari orang terinfeksi. Infeksi terjadi melalui droplet atau kontak langsung dengan penderita. Pada lingkungan tertutup seperti di asrama calon prajurit, semua orang yang rentan dan terpajan bisa terinfeksi. Bayi dengan CRS mengandung virus pada sekret nasofaring dan urin mereka dalam jumlah besar, sehingga menjadi sumber infeksi.



6. Masa inkubasi: dari 14-17 hari kisaran antara 14-21 hari.

7. Masa penularan

Sekitar 1 minggu sebelum dan paling sedikit 4 hari sesudah onset ruam; penyakit ini sangat menular. Bayi dengan CRS kemungkinan tetap mengandung virus selama berbulan-bulan sesudah lahir.

8. Kerentanan dan Kekebalan

Semua orang rentan terhadap infeksi virus rubella setelah kekebalan pasif yang didapat melalui plasenta dari ibu hilang. Imunitas aktif didapat melalui infeksi alami atau setelah mendapat imunisasi; kekebalan yang didapat biasanya permanent sesudah infeksi alami dan sesudah imunisasi diperkirakan kekebalan juga akan berlangsung lama, bisa seumur hidup, namun hal ini tergantung juga pada tingkat endemisitas. Di AS, sekitar 10% dari penduduk tetap rentan. Bayi yang lahir dari ibu yang imun biasanya terlindungi selama 6-9 bulan,tergantung dari kadar antibodi ibu yang didapat secara pasif melalui plasenta.



9. Cara-cara Pemberantasan

A. Tindakan pencegahan

1) Lakukan penyuluhan kepada masyarakat umum mengenai cara penularan dan pentingnya imunisasi rubella. Penyuluhan oleh petugas kesehatan sebaiknya menganjurkan pemberian imunisasi rubella untuk semua orang yang rentan. Upaya diarahkan untuk meningkatkan cakupan imunisasi rubella pada orang dewasa dan dewasa muda yang rentan; perlu dikaji tingkat kekebalan orang-orang yang lahir di luar AS, hal ini perlu diberikan Perhatian khusus.

2) Berikan dosis tunggal vaksin hidup, yaitu vaksin virus rubella yang dilemahkan (Rubella virus vaccine, Live), dosis tunggal ini memberikan respons antibodi yang signifikan, yaitu kira-kira 98-99% dari orang yang rentan.





3) Vaksin ini dikemas dalam bentuk kering dan sesudah dilarutkan harus disimpan dalam suhu 2-80C (35,60- 46,40F) atau pada suhu yang lebih dingin dan dilindungi dari sinar matahari agar tetap poten. Vaksin virus bisa ditemukan pada nasofaring dari orang-orang yang telah diimunisasi pada minggu ke-2 hingga ke-4 sesudah imunisasi, umumnya hanya bertahan selama beberapa hari, namun virus ini tidak menular. Di AS, imunisasi kepada semua anak-anak direkomendasikan diberikan pada usia 12-15 bulan sebagai bagian dari vaksin kombinasi campak dan vaksin gondongan (Measles Mumps and Rubella=MMR) dan dosis kedua MMR diberikan pada usia anak masuk sekolah atau dewasa muda. Ditemukannya penyakit rubella terus-menerus diantara orang-orang yang lahir di luar AS, mengindikasikan bahwa pemberian imunisasi rubella harus dilakukan pada komunitas ini. Vaksin rubella dapat diberikan kepada semua wanita yang tidak hamil tanpa kontraindikasi. Dewasa muda yang rentan dan mempunyai riwayat kontak dengan anak-anak atau berkumpul bersama di kampus atau institusi lain seperti tinggal di asrama sebaiknya diimunisasi. Semua petugas kesehatan sebaiknya sudah kebal terhadap rubella terutama orang-orang yang kontak dan merawat penderita di bagian prenatal. Bukti adanya kekebalan diindikasikan dengan adanya antibodi spesifik terhadap rubella dan pemeriksaan laboratorium atau bukti tertulis bahwa seseorang telah diimunisasi rubella pada saat atau sesudah ulang tahunnya yang pertama.

Vaksin rubella sebaiknya tidak diberikan kepada orang yang tidak mempunyai sistem kekebalan atau mendapat terapi imunosupresif; namun MMR direkomendasikan untuk diberikan kepada orang-orang dengan infeksi HIV yang asimtomatik. Pemberian vaksin MMR sebaiknya dipertimbangkan bagi penderita HIV dengan gejala. Secara teoritis, wanita yang diketahui hamil atau merencanakan hamil, 3 bulan mendatang sebaiknya tidak diimunisasi. Namun dari hasil catatan di CDC Atlanta menunjukkan bahwa dari 321 wanita yang diimunisasi rubella pada waktu hamil, semuanya melahirkan aterm dengan bayi yang sehat.

Hal-hal yang perlu diperhatikan pada program imunisasi rubella adalah selalu menanyakan kepada wanita pasca pubertas apakah mereka hamil, dan mereka yang menyatakan ya tidak diberikan imunisasi dan kepada yang lain yang tidak hamil diberi penjelasan pentingnya mencegah kehamilan selama 3 bulan mendatang serta diberi penjelasan risiko teoritis yang akan terjadi jika hal ini dilanggar. Status imunisasi seseorang hanya dapat dapat dipercaya bila dilakukan tes serologis, namun hal ini tidak terlalu penting untuk diketahui sebelum pemberian imunisasi karena vaksin ini sangat aman diberikan kepada orang yang sudah kebal. Di beberapa negara, imunisasi rutin diberikan kepada gadis remaja usia 11 hingga 13 tahun dengan atau tanpa tes antibodi sebelumnya. Di banyak negara yaitu AS, Australia dan Skandinavia, dosis kedua vaksin MMR direkomendasikan untuk diberikan kepada remaja pria maupun wanita. Untuk lebih jelasnya, lihat penjelasan mengenai Campak, 9A1.

4) Jika diketahui adanya infeksi alamiah pada awal kehamilan, tindakan aborsi sebaiknya dipertimbangkan karena risiko terjadinya cacat pada janin sangat tinggi. Pada beberapa penelitian yang dilakukan pada wanita hamil yang tidak sengaja diimunisasi, kecacatan kongenital pada bayi yang lahir hidup tidak ditemukan; dengan demikian imunisasi yang terlanjur diberikan pada wanita yang kemudian ternyata hamil tidak perlu dilakukan aborsi, tetapi risiko mungkin terjadi sebaiknya dijelaskan. Keputusan akhir apabila akan dilakukan aborsi diserahkan kepada wanita tersebut dan dokter yang merawatnya.

5) IG yang diberikan sesudah pajanan pada awal masa kehamilan mungkin tidak melindungi terhadap terjadinya infeksi atau viremia, tetapi mungkin bisa mengurangi gejala klinis yang timbul. IG kadang-kadang diberikan dalam dosis yang besar (20 ml) kepada wanita hamil yang rentan yang terpajan penyakit ini yang tidak menginginkan dilakukan aborsi karena alasan tertentu, tetapi manfaatnya belum terbukti.



B. Pengawasan penderita, kontak dan lingkungan sekitar

1) Laporan kepada petugas kesehatan setempat: Semua kasus rubella dan CRS harus dilaporkan. Di AS, laporan wajib dilakukan, Kelas 3 B (lihat tentang pelaporan penyakit menular).

2) Isolasi: Di rumah sakit dan institusi lain, terhadap penderita yang dicurigai menderita rubella sebaiknya dirawat dengan tindakan pencegahan isolasi kontak dan ditempatkan di ruang terpisah; upaya harus dilakukan untuk mencegah pajanan kepada wanita hamil yang tidak diimunisasi . Anak-anak yang sakit dilarang ke sekolah dan begitu juga orang dewasa yang sakit dilarang bekerja selama 7 hari sesudah munculnya ruam. Bayi dengan CRS mungkin mengandung virus dalam tubuhnya untuk jangka waktu yang lama. Semua orang yang kontak dengan bayi dengan CRS harus sudah kebal terhadap rubella dan bayi-bayi ini sebaiknya dipisahkan di ruang isolasi. Terhadap bayi yang menderita CRS ini tindakan tindakan kewaspadaan isolasi sebaiknya diberlakukan setiap saat bayi ini dirawat di rumah sakit sebelum bayi berusia 1 tahun, kecuali hasil kultur faring dan urin negatif tidak ditemukan virus sesudah bayi berumur lebih dari 3 bulan.

3) Disinfeksi serentak: Tidak dilakukan.

4) Karantina: Tidak dilakukan.

5) Imunisasi kontak: Pemberian imunisasi selama tidak ada kontraindikasi (kecuali selama kehamilan) tidak mencegah infeksi atau kesakitan. Imunisasi pasif dengan IG tidak dianjurkan (kecuali seperti yang dijelaskan pada 9A4 di atas).

6) Investigasi kontak dan sumber infeksi: Lakukan investigasi dan identifikasi wanita hamil yang kontak dengan penderita, terutama wanita hamil pada trimester pertama. Mereka yang pernah kontak dengan penderita ini sebaiknya dilakukan pemeriksaan serologis untuk melihat tingkat kerentanannya atau untuk melihat apakah ada infeksi awal (antibodi IgM) dan terhadap mereka diberi nasihat seperlunya.

7) Pengobatan spesifik: Tidak ada.



C. Penanggulangan wabah

1) Untuk menanggulangi KLB rubella, laporkan segera seluruh penderita dan tersangka rubella dan seluruh kontak dan mereka yang masih rentan diberi imunisasi.

2) Petugas dan praktisi kesehatan serta masyarakat umum sebaiknya diberi informasi tentang adanya KLB rubella agar dapat mengidentifikasi dan melindungi wanita hamil yang rentan.



D. Implikasi bencana: Tidak ada.

E. Tindakan Internasional: Tidak ada.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home